3 dari 4…

3 dari 4…

Cerita 3 dari 4 Foto 1

“Rezeki itu ibarat kuda, jadi perlu perawatan dan perhatian juga”

Sudah beberapa kali saya diminta mengisi ceramah, baik seminar ataupun pengajian..Sebagian besar yang ditanyakan peserta itu ternyata masalah rezeki, rupanya rezeki memang telah menjadi ‘komoditi utama’ bagi benak masyarakat saat ini, lha ternyata semua lapisan berpikir keras tentang rezeki.

Pertanyaannya sih macam-macam.
Mulai dari do’a biar mudah rezekilah.. , trik-trik mencari rezekilah.., cara mudah mendapatkan rezekilah..,halal dan haramnya rezekilah.., tapi herannya, kok saya belum pernah mendapat pertanyaan tentang “Bagaimana cara yang baik memanfaatkan rezeki setelah mereka mendapatkannya” .

Apa karena mereka pikir akan mudah ya memanfaatkan rezeki setelah mendapatkannya??. Mereka pikir pasti akan lebih gampang membelanjakannya dari pada mencarinya bener nggak teman-teman??.  Trus juga yakin pasti bisa meng-‘handle’ si rezeki tersebut??.

Padahal rezeki itu kalau saya ibaratkan, seperti seekor ‘KUDA’. Setelah bersusah-susah mencari, biasanya kita baru bisa mendapatkan anaknya, lalu setiap hari kita beri makan dan pelihara anak kuda tersebut dengan penuh kasih sayang dengan harapan biar cepet gede.

Setelah dewasa, sang KUDA bisa kita manfaatkan untuk berbagai kepentingan kita. Salah satunya, dapat kita kendarai guna mempercepat mencapai tujuan.

Banyak sekali yang dapat bersahabat dan memanfaatkan KUDAnya guna segera mencapai tujuan dengan selamat dan bahkan ada juga yang berhasil mengembang biakkan dan membuat ‘Peternakan KUDA’.

Biasanya kelompok ini adalah pekerja keras sekaligus penyayang KUDA, mereka mendapatkan sang KUDAnya sejak masih jadi ‘Belo’ (jawa: anak kuda), sehingga bisa timbul rasa saling menyayangi dan saling membutuhkan diantara keduanya.

Tapi tidak sedikit juga lho, pemilik yang Tamak & Serakah, hingga memacu setiap hari tanpa memperhatikan kondisi kesehatan dan kenyamanan sang ‘KUDA’. Hasilnya, sang KUDA cepet létoy dan terpuruk.

Dan yang banyak terjadi serta harus diwaspadai adalah: “jika Allah tiba-tiba memberikanmu KUDA yang gagah perkasa!!!”. Bayangin, dapat rezeki yang melimpah dalam tempo yang singkat…!!!

Kalo’ tidak bijaksana pasti kita akan segera melompat ke punggung KUDA tersebut, memacunya dengan kencang, tanpa tahu kemampuan dan kebiasaan sang KUDA dalam melaju. Alhasil, njungkeeeeel broooo!!!!!.

Dalam sepuluh tahun terakhir, saya bersusah payah mencoba mendapatkan seekor KUDA serta berupaya mengembang-biakkannya agar bisa menjadi rezeki yang Barokah, tapi sambil berjalannya waktu tersebut, saya perhatikan, kok 3 dari 4 teman saya malah menjadi mempunyai masalah keluarga setelah Allah berikan rezeki yang melimpah padanya.

Lalu buat apa bersusah-susah mengejar rezeki klo toh akhirnya malah ribut dengan keluarga??. Saya jadi ragu jé meneruskan perburuan KUDA ini, ojo-ojo nanti saya malah ribut ama Itya klo udah kecukupan.

Kalo boleh saya kupas satu persatu contoh yang teman-teman saya alami, tapi ini hanya sebatas kemampuan pengamatan saya lho, dan tanpa menyebut nama.

Sepertinya semuanya berawal dari salah mengartikan ‘Kepemilikan’ KUDA, ya bisa salah, lupa atau bahkan pura-pura tidak tahu tentang azas kepemilikan KUDA tersebut.

Misalnya si Nganu, sahabat saya di SMA dulu, waktu jaman pacaran, asli kami-kami ngiri, wong pacarnya tuh temen SMP dia, trus SMAnya mayoret, modis pokoknya ‘Cewek Gaul’ gitu lah. Padahal, si Nganu tuh Jelèk lho waktu SMAnya, jauhlah kalau dibanding saya dulu.

Lho Beneeer.. “saya tuh dulu sempet pernah Ganteng lho..”, klo nggak percaya., sebentar saya carikan Photo waktu saya SMA. Perhatikan dan bandingkan dengan sekarang deh.

Cerita 3 dari 4 Foto 2

“Lumayankan, kalau dibanding temen-teman disekitar saya dulu “

Betapa saya bayangkan waktu itu, pengorbanan ceweknya si Nganu yang mau memilih dia dan lanjut mau terus berkorban bersama mencari KUDA. Lha gimana ngga ‘berkorban’.. walaupun si Nganu tuh lulusan Perguruan Tinggi Ternama Indonesia tapi kan jurusannya termasuk ‘jurusan susah cari rezeki’.

Dan benerkan, Akhirnya mereka berdua mendapatkan anak KUDA dari pekerjaan yang lain sama sekali bukan dari jurusan kuliahnya si Nganu, bisa jadi, walaupun saya nggak tau pasti, pekerjaan tersebut didapat karena ada ‘bantuan’ dari pihak lain yang mungkin malah dari pihak istrinya si Nganu lho, bisa jadi…

Sebenarnya, kalo mau kita duduk sebentar dan mengingat ingat masa itu, hal tersebut  adalah bukti bahwa Allah memberikan ‘Anak KUDA’ untuk mereka berdua,  untuk keluarga mereka, bukan hanya untuk Si Nganu doang, ataupun Istrinya doang.

Terus selanjutnya, mereka berdua mencoba membesarkan sang KUDA, pasti banyak juga bantuan dari banyak pihak, terutama keluarga. Apakah si Nganu lupa ya???

Saya denger sekarang keluarga mereka sedang diujung tanduk, ya mungkin karena Istrinya sibuk mengurusi anak-anak hingga lupa bahwa dia adalah ‘Cewek Modis’ idaman si Nganu. Sementara si Nganu lupa bahwa KUDA tunggangan dia selama ini ya milik keluarga, bukan hasil jerih payahnya sendiri.

Lha ya jelas lah, kalau udah punya KUDA tuh sangat gampang untuk ‘mbajul’ cewek di setiap perempatan dan setiap kesempatan, apalagi bawahan kantornya, ‘prawan kencur’ yang mudah silau.

Lha tapi mosok nggak sadar sih, yang dilihat ‘prawan kencur’ itukan KUDAnya, bukan penunggangnya. Lha coba klo sebangsa si Nganu atau saya sekarang sekalipun, naik KELEDAI. “opo yoo ono sing nglirik duuul..?”

Saya hanya pengin bilang gini: “Banyak lho contoh di sekitar kita, yang hingga akhir masa tuanya tidak diberi kesempatan bangkit oleh Nya..”. Maka mumpung belum jatuh, kembalilah pada peternakan KUDA di keluarga kita.

Adalagi sahabat saya yang keluarga muda, mengatas namakan ‘demi masa depan’ putri tunggal mereka. Dengan semangat membara pengin mencoba mencari KUDA di ibukota Negara kita, Jakarta.

Saya udah sampaikan, Jakarta itu lain dengan Negara  yang mereka tempatin sebelumnya, Negara yang tentram dan damai, wislah.., miara KUDA aja di Negara tersebut, keluarga lebih terjamin. “Jakarta tuh rimba belantara, aturannya nggak jelas,  kalaupun situ bisa dapat mangsa, bisa-bisa habis di jalan juga karena banyak jebakan dan goda”, gitu pesan saya kepadanya tahun lalu.

Tapi, atas nama ‘demi masa depan’ mereka nekat juga akhirnya, dan hebatnya, baru sekitar setahun berkiprah di Jakarta ternyata sudah bisa mendapatkan KUDA tangguh luar biasa. Bayangkan, untuk kelas pemula, udah bisa menghasilkan Rp 1,3 M dalam setahun, wiiiiiih FANTASTIS!!!

Saya mulai curiga ketika sahabat saya ini mulai kasbon ke saya, mengambil tabungannya yang dititipkan ke saya, dan setelah saya kirim orang untuk membuntutinya setiap hari selama sebulan.

Yaaaaah, kesandung ‘Perawan Kencur’ lagiiiiiiii….Lagi-lagi ada sahabat saya yang tidak bisa mengendalikan KUDAnya.

Saya hanya nggak sanggup membayangkan anak mereka yang sangat lucu itu, kasian, masa depannya menjadi nggak jelas hanya karena bapaknya lupa diri, menganggap KUDA itu adalah miliknya doang.

Sementara istrinya yang kelewat cantik dan setia merawat anaknya, hanya dikalahkan demi seorang ‘perawan kencur’ yang pasti akan segera pindah halauan ke penunggang yang lain, ketika teman saya ini mulai Kehilangan KUDAnya.

Cerita 3 dari 4 foto 3

Yaaaah, kesandung ‘Perawan Kencur’ lagiiiii….Lagi-lagi ada sahabat saya yang tidak biasa mengendalikan KUDAnya.

Kalo contoh yang ketiga ini agak lucu.
Saya kenal dia juga belum terlalu lama, tapi saya suka dengan kejujuran dan kegigihannya.

Sosok pemuda tangguh tanpa KUDA, tapi saya sangat yakin, pemuda ini bakal bisa mendapatkan KUDA tangguhnya jika dia konsisten tekun dan tetap rendah hati

Sekitar awal tahun lalu, ketika saya pas di rumah Bapak di Jogja, dia ngotot ketemu saya malam itu juga, katanya, “ini Urgent Pak, saya mohon pertimbangan dan jalan keluar”.

Rupanya ada 2 hal yang mengganggu pikirannya malam itu, satu: masalah usahanya yang mulai ‘dibobol’ ama orang kepercayaannya dan yang kedua: dia mangkel dan minta pendapat gimana kalau dia mukulin orang lain, karena istrinya disenengin orang tersebut.

Untuk yang pertama, saya bisa dengan mudah memberikan solusi bisnis dan alhamdulillah saya dengar saat ini usahanya menjadi berkembang pesat, Alhamdulillah.

Lha untuk yang kedua  hihihihi…, aslinya saya pengin ketawa malam itu,  lha tapi karena dia serius dan menyampaikannya dengan wajah yang sangat serius pula, maka terpaksa saya urungkan niat ketawa itu.

Pada intinya malam itu saya menjawab pertanyaan kedua dengan penuh canda, tapi insya Allah mengena: “Lha situ kan kawatir istri berpaling karena situ jelèk tur nggak punya uang kan??!!”. Pada awalnya dia mecucu, tapi ngga bisa juga menolak pendapat saya.

Saya bilang malam itu,”Seharusnya situ bangga istrinya disenengin orang lain, berarti kan istri situ cantik..”. Yang penting bagaimana caranya agar dia tidak berpaling dan lagi sudah nggak musim sekarang mukulin orang, hehe..

Saya sarankan untuk ‘balas dendam positif’  aja lebih efektif.. “Usaha yang maksimal, tunjukkan pada keluarga bahwa dikau mampu dan lebih hebat dari yang lain, pasti aman keluarga sampeyan”,  kira-kira gitulah petuah saya malam itu.

Dan kalimat penutup saya, “Saya bantu agar dikau bisa menjadi ‘seseorang’, tapi kalo sampai lupa diri. Aku tinggal..!!!”

Alhamdulillah, setahun kemudian dia berubah total menjadi ‘Seseorang’, usaha melonjak tajam, keluarga aman, hanya kata beberapa temannya, dia mulai ‘berubah’. Semoga saja dia segera menyadari dan kembali ke format semula “Tekun dan Rendah Hati”.

Jadi tinggal satu hal yang perlu dia buktikan… TIDAK LUPA DIRI…

Sebenarnya masih ada beberapa teman yang baik juga kita amati,  lha tapi gimana, lha wong judul di atas udah terlanjur ‘3 dari 4’ jé, takutnya kalau nambah satu lagi contoh kasus, judul bisa berubah menjadi ‘4 dari 4’ hehehehe.

Oh ya, hampir lupa.
Dan yang kebanyakan terjadi saat ini, sangking penginnya mendapat KUDA tapi nggak kunjung berhasil, banyak diantara kita yang lantas memelihara ‘KUDA LUMPING’, sehingga lari kian kemari berasa dan membayangkan naik KUDA, padahal larinya hanya di atas telapak kaki sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *