Da’i Kontemporer

“Da’i Kontemporer”

Foto 1

Jawahir Thontowi

Sewaktu ditelpon Mas Bambang sekitar satu minggu lalu,  saya merasa senang dengan tawaran bedah buku di bulan puasa ini. Terbayang di benak saya bahwa buku, pasti tentang pemerintah daerah.  Utamanya, karena saat ini  kepala-kepala desa di seluruh pelosok Indonesia was-was dengan penerimaan dan pemanfaatan Anggaran Belanja Desa, yang jika salah-salah bisa masuk penjara lantaran jaksa dan atau KPK.

Eh, tenyata pikiran saya keliru jauh. Paket yang saya terima kiriman paket dari mas Bambang di kamar Mess Lemhannas, Kebon Sirih 28, Jakarta Pusat, cukup mengagetkan. Setelah dibuka, saya pikir buku ini salah alamat. Sebab, saya merasa tidak ada potongan sense of humor, apalagi berpikir dan berperilaku nyentrik. Sama sekali tidak ada . Tapi, jikapun buku ini dikembalikan atau dibatalkan tampaknya dengan waktu yang sangat sempit adalah tidak mungkin.

Mestinya, pakar pendidikanlah, yang cocok membedah buku dengan judul “Tidak Ada Bekas Guru”. Refleksi Hidup mas Onny Hendro Yes, terkenal sebagai Da’i kondang, karena klaim nyentrik “Kaji Edan”. Apakah kenyentrikan buku karya Kaji Edan ini? Ya dari judul saja sudah nyentik, Tidak ada Bekas Guru”. Bukankah atribut Guru adalah tetap alias permanen?. Lagi yang nyentrik alias tidak lazim, dijumpai dalam bagian sub judul B, dengan kata, He,. He,.  He,. (hal 123), Sub bab D. Unjuk Gigi (hal 247) .  Maklum, pembedah ini juga suka nulis, sehingga ketika ada pakem baru muncul, seperti Mas Onny ini, hampir-hampir kurang bisa diterima. Apalagi, jika dikaitkan dengan tradisi  berpikir hukum yang serba formalistik dan kaku penuh dengan keteraturan. Beruntung saja, pembedah bersama generasi muda pemikir hukum, sedang gandrung mengakibatkan antara gejala hukum kreatif dengan hukum kreatif, yang kecenderungannya, out of the box, dari tradisi kemapanan.

Namun, berangkat dari keraguan itulah, akhirnya saya menyerah untuk membaca dan membedahnya. Secara jujur, mustahil buku setebal ini 338 halaman, saya baca seluruhnya secara rinci. Karena itu, mohon dimaafkan jika tidak seluruh informasi, dan keterangan serta kisah nyata tidak tersampaikan dalam forum sore ini. Karena itu, hanya beberapa  aspek menarik dan penting saja yang sempat digaris bawahi sebagai pesan-pesan penting bagi kita semua.

Foto 2

  1. Da’i Nyentrik, Vs Out of the Box Da’wah Bil-Lisan

Buku yang berada di hadapan kita adalah karya seorang praktisi bisnis, yang berhasil. Beliau menyampaikan keberhasilannya, dengan ungkapan rendah hati. Sehingga sejak awal, dia pesan kepada pembaca bahwa apa yang ia lakukan, dalam pengalamannya, bukan “untuk menonjolkan maupun menyombongkan diri, ataupun memojokan orang “. Tetapi, lebih bertujuan agar bermanfaat bagi pembacanya” (Hal 1). Karena itu, tidaklah terlalu salah jika saya menempatkan Mas Onny, sebagai model da’wah yang out of the box, atau suatu penyampaian ajaran Islam dengan lisan-lisan bersifat normatif. Melainkan telah keluar dari pakem kelaziman (out of the box),  yaitu lebih memilih pengalaman-pengalaman nyata yang dapat dijadikan pelajaran, pegangan dan bahwa pedoman hidup.

Pesan moral yang sangat mendalam, dan saat ini sedang menjadi krisis yang harus dijawab umat Islam, memuliakan seorang guru, yang menjadikan orang-orang sukses dan besar. Tidak mungkin keberhasilan seseorang dalam jabatan dan status apapun tanpa keterlibatan guru. Apakah dia bersikap menyukai ataukah menyepelekannya (kata halus membencinya).

  • Kasus Bu Ning di SMP 5, yang pernah menghukum Mas Onny, beberapa puluh tahun lalu, sungguh membekas. Karena setiap pelajaran PKK-nya, selalu nilai bagi dirinya tidak pernah berubah, maksimum 6. Gara-gara suatu saat, dalam MK PKK, disuruh membuat karya, tidak sesuai dengan keinginan gurunya. Misalnya, Bunga Tulip dari Belanda. Bunga Mawar Dari Perancis. , lalu mulai nakal, dan melenceng, 4. Bunga Tinah dari Bantul. (Padahal Bu Ngatinah adalah guru Agama dari Bantul).

Memang diakui, ketika Bu Ning menelpon, terbesit kesombongan dan kepongahan. Padahal, Bu Ning sesungguhnya hanya ingin menyampaikan Selamat ulang tahun pernikahan, dengan menyampaikan bahwa Bu Ning telah mempunyai beberapa orang cucu. Sebagai seorang manusia, Onny mengakui sifa-sifat tidak terpujinya, Ya ada perasaan sombong, pongah, tidak tahu diri, dan masih sok-sokan. Namun, kerendahan hati, Mas Onny muncul dalam kesadaran religiuos, yaitu dengan mengemukakan takbir dan istigfar, dan menutupnya, pernyataan “ternyata Kaji Edan masih bukan siapa-siapa dibandingkan dengan kebesaran hati dan kebesaran jiwa guru-gurunya”. “Tidak pernah ada Kaji Edan tanpa mereka”. Tidak akan pernah ada kata bekas guru di hati Kaji Edan”.

  • Pengalaman sholat Jumat di Perth dengan bahasa Inggris umumnya gagal menemui kenikmatan. Bukan sekedar bahasa Inggris. Umumnya, Mas Onny selalu gagal memperoleh kejelasan dari ibadah J Pasalnya, pengakuan Mas Onny tentu bukan sekedar permasalahan keterbatasan bahasa Inggris, tetapi karena umat Islam melaksanakan ibadah sholat ibarat “karokean sama Tuhan.

Bisa dibayangkan, dalam suatu Jumatan di Perth, yang biasanya para Khotibnya orang-orang Arab, dan Afrika, maka pilihan bahasa bagi mereka adalah, jika tidak bahasan Inggris maka bahasa Arab. Tentu saja, baik bahasa Inggris maupun bahasa Arab bagi pemula tidaklah mudah menangkap bagi orang-orang asing seperti orang Indonesia. Namun, penulis buku pernah dihentakkan oleh seorang Khotib, yang khotbah nya pernah menyentuh kalbunya (hal 51). Khotib mulai mengingatkan, esensi sholat sebagai media komunikasi dengan Tuhan. Malah, dalam diri penulis, justru dalam sholat suka muncul ide-idel original untuk menulis, yang sesungguhnya itu jelas, tidak sesuai dengan pemenuhan sholat untuk kebutuhan ruhaniah.

Manakala dalam komunikasi, bahasa yang digunakan tidak dipahami, tentu saja tidak mudah komunikasi dilakukan sholat menjadi lebih berkualitas. Apa sebab, karena umat Islam melakukan sholat ibarat belajar menyanyi seperti ikut karokean. Hanya mengikuti kata-kata, terkadang tanpa makna dan penghayatan. Bagaimana mungkin kita akan dapat melaksanakan sholat yang khusu’, jika sholat kita  karokean, tidak mengetahui maknanya, dari semua perilaku yang ada dalam sholat. Mulai, bacaan Takbir, Ruku, dan Sujud, lainnya.

Karena itu, penulis mengusulkan perlunya peninjauan ulang atas penyelanggaraan sholat, yang dimulai dengan pentingnya pemahaman terhadap kata, kalimat dalam setiap bacaan sholat. Sholat kita akan menjadi tertib khusu’, jika memang memahami dan menghayati, sehingga komunikasi antara makhluk dan kholik akan sungguh berarti. “Kalimat penutup khotib, yang menggugah penulis buku, adalah  “Aneh kalian sendiri yang berniat telpon dengan TUHAN, begitu sudah nyambung malah menyanyi lagu karoke, tanpa penghayatan lagi.

  • Patuh kepada orang tua, khususnya Ibu menjadi pemantik penulis untuk percaya bahwa Surga berada di telapak kaki ibu.   Pengalaman hidup Mas Onny, ketika sang istri sedang melahirkan sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kesakitan dan puncak setengah kematian. Bagaimana suatu seorang ibu yang telah perngorbankan hidup demi anaknya, sembilan bulan selama dalam perut, dan sakit luar biasa pada saat melahirkan, dan kemudian menyusui dan memangku beberapa tahun adalah pertaruhan nyawa yang tiada taranya.

Wajar karenanya, jika  seorang anak yang shaleh kepada Allah, sebanding dengan ketaatan pada orang tuanya. Sukar dimengerti, jika ada anak-anak yang murka, menghardik, dan memukul dan bahkan akhir-akhir ini, anak memperkarakan ke Pengadilan, membunuhnya. Padahal, mereka itulah yang tak pernah henti, menderita dan berkorban kepada anaknya, dengan harapan anak-anaknya bisa menjadi orang-orang yang berhasil.

  1. Ibu Sebagai Guru Negosiasi 

Tercermin ketika Mas Onny dengan Mas Arief (temannya) disuruh menagih pada beberapa kreditur yang membeli mebeler dengan  kredit. Semula praktek penagihan umumnya gagal, karena menagih ternyata bukan pekerjaan gampang. Lebih banyak pengorbanan yang dirasakan dari pada keberhasilan. Mengapa gagal? Ajaran ibunya, mulai dipraktekan. Pertama, menempatkan kreditur harus sejajar, kita sebagai orang yang ditugaskan juga harus mendengar.  Karena itu, kehadirannya bukan sekedar menagih tetapi juga menggali informasi, yang dibutuhkan untuk barang mebeler lainnya. Kekeluargaan, kerjasama, dan gotong royong. Sempatkan komunikasi, dengan pihak-pihak penghutang, “biasakan  memberi lebih maka anda akan mendapatkan lebih” (hal 197).

Sesuatu yang dicapai bisa besar, jika kita mampu melakukan bergaining, tawaran, I give you this, but i get that from you, keseimbangan antara reard and punishment.

  1. Mengapa Shodaqoh tidak Membuat Miskin 

Spirit shadaqoh bukan monopoli, ajaran Islam, tetapi juga hampir agama-agama besar, termasuk Kristen mengajarkan kasih sayang, untuk saling memberikan sesuatu kepada pihak lain. Jangan terjebak, dengan zakat tahunan, hal ini bisa membatasi niat kita untuk membatasi pemahaman shodaqoh dan zakat dibatasi waktu. Karena itu, percayalah “bahwa shodaqoh tidak akan membuat kita miskin. Bahwa orang-orang yang bertaqwa harta kekayaan mereka di jalan Allah, sebagaimana pohon besar yang memiliki tujuh cabang  dan setiap cabang memiliki buah 100”  (Al-Baqawah ayat 261).

Atas dasar ayat tersebut, yakinlah  bahwa shodaqoh dapat memanjangkan umur, dengan umur panjang akan bermakna perpanjangan usaha, yang akan  dapat menuai harta kekayaan lebih banyak lagi. Walau tidak sempat dipetik hasil shodaqoh didunia, dipastikan diakhirat akan diperoleh.

Namun, agar shodaqoh tepat sasaran dan dapat menimbulkan manfaat lebih besar, maka perlu adanya strategi yang perlu dipeirtimbangkan (Hal 309) agar selalu menimbulkan manfaat bagi kemanusiaan.

Demikian saya sampaikan dan sekali lagi selamat bagi Mas Onny, semoga buku ini menjadi spirit bagi lahirnya generasi muda islam yang kreatif.

Yogyakarta, 13 Juli 2015.

Foto 3

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *