‘Darah Judi’ gimana cara menghapusnya??

‘Darah Judi’ gimana cara menghapusnya??

Kok tiba-tiba saya jadi ingat ketika usia 10 th, di mana saat itu ekonomi Bapak sepertinya masih jauh di bawah garis kemiskinan.. Lha piye.. rumah masih tetep kontrak di dalam kampung, masuk gang kecil di daerah Mergangsan, Yogyakarta. Saat-saat itu, menu makan sangat amat sederhana yang setia menemani kehidupan kami setiap harinya.. Bertahun-tahun ‘stabil’ dan nggak ada perubahan, Always nasi putih, parutan kelapa & garam dicampur sampai rata.. Asyiiiiiiiiiiiiik.

Waktu itu Bapak masih ‘konsisten’ sebagai pegawai TU Kantor Kejaksaan, terus kalau malam masih ‘nyambi’ jadi keamanan kampung kami.

Di Jaman itu, ‘makan mewah’ di warung apalagi restoran.. wuuuuiiih, bagaikan gerhana matahari bagi keluarga kami.., “amat sangat jarang terjadi..”. hehehe mana ada gerhana matahari kok setahun sekali??

Makanya, hingga sekarang saya masih sangat ingat detail peristiwa setiap kami diajak ‘makan mewah’ oleh bapak.., dan ‘Mewah’ nya itu hanya untuk ukuran anaknya seorang pegawai TU yang merangkap sebagai keamanan kampung Lho.. jangan dilebih-lebihkan lho yes..hiikss.

Aslinya, hanya 3x sih kami pernah merasakan ‘makan mewah’.

Pertama, diajak bapak makan di warung nasi goreng jawa di bawah jembatan Sayidan.., itu lho jembatan sebelah timur perempatan Gondomanan, persis di bawah pojok utara-timur jembatan itu warungnya.

Dulu warungnya bersih, sehingga pelanggan bisa makan dengan nikmat sambil dihibur oleh aliran sungai code yang masih bening, waktu itu airnya belum keruh dan bau seperti sekarang lho, betapa senengnya saya dipesankan nasi goreng Jawa tanpa kecap, sebab sejak kecil memang saya nggak suka kecap.

Saya ingat betul, waktu itu Bapak pesennya 2 nasi goreng tanpa telur, sepiring saya berdua dengan Mbak Ika dan sepiring lagi Bapak Ibu makan berdua.. “Hadhuuuuh.., nikmatnya seperti surgaaaa..”, batin hati saya waktu itu.

Tau nggak temen-teman, sampai saat ini pun saya masih ingat bener detail tekstur dan rasanya ‘nasi goreng Jawa tanpa telur itu..’, nasi, digoreng pakai bawang merah dan bawang putih.., beberapa potongan cabe nya masih terlihat diantara sekumpulan nasi goreng itu, masih terlihat juga beberapa serpihan bawang merah yang nggak ikut hancur ketika ‘di-uleg’ menjadi bumbu nasi goreng itu. (Hiikss ‘mbrambangi’ juga saya nulis sambil mengingat-ingat episode ‘makan mewah’ sore itu).

Kedua, gudheg depan klentèng Gondomanan, dulu, Kalo malam di trotoar depan klentèng itu ada warung gudheg berpasangan dengan gerobag es buah & wedang rondé.

Kalau gudhegnya cuman menang banyak nasinya, terus telurnya satu utuh dan tahunya berlimpah, tapi es buahnya itu lho yang joss dan saya belum nemu padanannya, dan sayangnya sekarang udah nggak jualan, wiih..ada sawonya, pakai susu, pakai potongan roti.. wiiih mewah betul.

Ketiga, suatu waktu kami serumah pernah diajak Bapak ke restoran Chinese Food ‘Lie Djiong’ di Gondomanan. Sebuah Rumah makan yang sangat mewah buat keluarga kami, bahkan saya pun nggak pernah berani bermimpi masuk dan makan di situ.

"sampai sekarang masih jelas tergambar dalam benak saya, suasana RM Lie Djiong, lengkap dgn bakmi babi, swikee kodok dan sarsaparela malam itu"

“sampai sekarang masih jelas tergambar dalam benak saya, suasana RM Lie Djiong, lengkap dengan bakmi babi, swikee kodok dan sarsaparela malam itu”

Saat itu saya juga mbatin,”ngga salah nii Bapak kok ngajak makan di sini??”. Bisa-bisa gaji Bapak aja kurang untuk bayar makan kami berempat. Tapi nggak tau kenapa Bapak pesen makannya malah ngawuur pool..!!

Lha gimana nggak ngawur, wong udah pesen bakmi goreng babi, puyunghai & swikee kodok untuk menu barengan, ee…, saya masih boleh minta semangkok bakso kuah dan minum sebotol sarsaparela, buat saya sendiri lho.., “wiiiiiih.., mewaaah banget dan kali pertamanya saya boleh makan sendiri 1 porsi”. Sampai heran, sueeneng dan bingung saya.

Saat kami lagi asyik-asyiknya menyantap bakmi goreng babi makanan idam-idaman kami, Bapak didatengin temennya, lalu beliau meninggalkan meja dan terlihat ngobrol lama dengan Om-Om keturunan Tionghoa itu…, entah apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya sangat serius.

Belakangan saya baru tahu bahwa temen Bapak itu namanya Koh Ging-Ging.. beliau itu boss nya THR sekaligus Boss nya lottre TOTO RAGA.., itu lho undian mingguan yang seperti jaman presiden Soeharto bikin, SDSB.., PORKAS.

“Woooo, pasti yang mbayari restoran Lie Djiong malam itu ya Koh Ging-Ging.., pasti bukan Bapak saya..!!”, tebak saya waktu itu. Atau jangan-jangan beliau juga pemilik restoran itu,  wong nyatanya setelah kejadian malam itu Bapak jadi sering membawa pulang bakmi goreng babi, dan nggak tau kenapa kok akhirnya saya jadi nggak masalah lagi makan kecap, hehe…

Lha ternyata sejak malam itu Bapak tuh diminta oleh koh Ging-Ging itu sebagai pengumpul kupon-kupon TOTO RAGA yang laku beserta duitnya dari agen-agen seluruh Jogja barat, kemudian menyetorkannya ke Koh Ging-Ging setelah laporannya ‘dirèkap’ oleh Bapak, begitu terus tiap malam hingga hampir subuh.

Saya nggak tau berapa gaji Bapak dari koh Ging-Ging, tapi yg jelas saat-saat itu ekonomi keluarga kami tiba-tiba menjadi jauh lebih baik dan saat itu sama sekali nggak pernah terpikir oleh kami bahwa rejeki yang kami makan, beberapa %-nya ‘mengandung’ unsur Judi.

"Ribuan kupon pembelian TOTORAGA seperti inilah yang dulu bapak rekap dan laporkan tiap malam ke Koh Ging-Ging"

“Ribuan kupon pembelian TOTORAGA seperti inilah yang dulu bapak rekap dan laporkan tiap malam ke Koh Ging-Ging”

Lha gimana kepikiran, wong sama Bu Nari guru agama saya aja nggak pernah dibahas.. trus di gereja pun Pak pendeta nggak pernah menegur Bapak saya,  jadi ya kami melaju tanpa sedikitpun merasa ada yang salah.. maka sejak saat itu mengalirlah seluruh ‘Gaji Judi’ itu ke dalam darah kami sekeluarga.

Yang jadi masalah kami adalah, setelah migrasi ke agama Islam.. Ternyata ‘Duit Judi’ dan turunannya itu adalah ‘masalah’ di akherat.., hadeeeww..,berarti ‘Gaji Judi’ pun masuk dalam katagori bermasalah.

Terus udah gitu, akhir-akhir ini saya kok selalu kepikiran tentang ‘Gaji Judi’ dari Koh Ging-Ging, gimana cara menghilangkannya dari aliran darah kami???

Lha Bapak sudah sepuh jee, udah 75 tahun jee usianya.., saya pengin, urusan ‘Gaji Judi’ dalam darah kami sudah ‘Clear’ sebelum akhir hayat Bapak.., biar jelas dan tenang maksud saya.

Sebenarnya kalau urusan di akherat itu hanya tinggal ‘nilai positif’ dikurangi ‘nilai negatif’, aslinya nggak perlu risau saya tentang ‘Gaji Judi’ yang sudah mengalir dalam darah kami itu, tinggal kami perbanyak amalan positif, beres deh.

Lha tapi kata kyai di suatu pengajian nggak gitu jeew, katanya semua akan diperhitungkan satu-satu jeew.. wadhuuuh, bisa mampir dan bahkan nyangkut di neraka kami.. ,hiiiksss..

Ééé.. Lha kok kebetulan sekali, minggu lalu saya dapat  kiriman file video You Tube dari Acok temen saya. Setelah saya buka, ternyata isinya Mas Mentri Pemuda dan Olah Raga berorasi di depan Mahasiswa2 UI.

Wiiih.. betapa ‘Gembiranya’ saya ketika liat video Mas Mentri yang dengan tegas dan jelas menyampaikan pendapatnya, dengan inti sebagai berikut : “judi bola itu boleh-boleh saja, asal tidak masuk ke lapangan mempengaruhi wasitnya, mempengaruhi pemainnya sehingga berakibat mengatur hasil pertandingan”.

“Lho..berarti JUDI sudah mulai HALAL..?!! Lha ini, ada harapan solusi untuk masalah ‘aliran darah’ keluarga saya”, pikir saya dalam hati. Semoga saja Mas Menpora benar-benar bisa menghilangkan keresahan yang telah menghantui saya akhir-akhir ini.

Pemikiran saya sederhana, “Mas Menpora ini kan wakil dari PKB ya??”, dan kalau nggak salah PKB itu adalah sebuah Partai Politik yang berlandaskan agama islam kan? Ya mirip-mirip  seperti PPP, PAN, PKS, Partai Bulan Bintang. Artinya, Pasti beliaunya nggak asal ngomong, pasti ada landasan hukum agamanya, kalau nggak Qur’an ya Hadist Nabi lah minimal.

Gini, dulu saya pernah denger dari temen saya yang SD nya di MUHAMMADIYAH, katanya untuk lulus mereka wajib lolos “Kataman Qur’an”.. Jadi kalau Mas Mentri utusan dari salah satu partai politik di atas tadi, dia musti lolos “Kataman Qur’an”. Bahkan mustinya nggak cuman katam bacaannya, tapi untuk lolos level mentri sudah seharusnya katam juga arti serta makna Al Qur’an.

Wiiih jadi semangat saya, coba nanti akan saya browsing lagi dasar-dasarnya di Al-Qur’an dan Hadist.. ee, siapa tau emang bener ada pembaharuan peraturan dan biar lebih afdol, saya cari juga  dari Injil deh.

Ééé siapa tahu emang Mas Menpora bener pendapatnya.., kan jadi ngga usah pusing-pusing lagi saya dengan ‘Gaji Judi’ yang sudah terlanjur mengalir berpuluh-puluh tahun lalu dalam darah kami sekeluarga.

Lha tapi ini udah berjam-jam saya browsing, kok belum nemu artikel ataupun ayat-ayat di alkitab dan Qur’an yang bilang ataupun mendukung Judi itu ‘BOLEH’ ya.., kok tetep seperti dulu dan nggak ada perubahan yaa??

Ada sih tulisan yang memperbolehkan, Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Huraihah, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ

Tidak ada taruhan dalam lomba kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.

Tapi itu mengatur taruhan antar pemainnya doang jee..,jadi kalau antar pemain sepakat mengumpulkan masing-masing Rp 100.000 yang nantinya dikasihkan pada yang menang, itu boleh, tetapi itupun hanya berlaku pada pertandingan yang disebut di atas lho…

Lha tapi kalau taruhan antar penonton seperti yang dimaksud Mas Menpora kok nggak ada pembahasannya yaa??, jadi gimana nih nasib taruhan, judi dan turunannya??

Harapan saya, jika ketemu dasar-dasarnya setidaknya bisa menjadi titik awal untuk ‘membuka peluang’ bahwa ke depan judi itu bisa HALAL, sehingga pendapat para kyai bisa berubah dan selamatlah kami sekeluarga.. amiiiin.

Kalau hasil saya browsing, masalah Judi itu Landasan utamanya ya cuman ini jee :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)

Sedangkan di Alkitab saya belum nemu kalimat pelarangan yang tegas tentang Judi itu, hanya saja Alkitab memperingatkan umatnya untuk menjauhkan diri dari usaha “mendapat kekayaan dengan cepat”. Pada Amsal 13:11 jelas dikatakan: “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.”

Wadhuuuh, mulai was-was saya.., lha kalau ternyata benar dugaan dan hasil browsing saya tentang judi itu masih tetap mutlak di HARAM-kan sampai sekarang, njuk Mas Menpora itu pakai dasar agama apa ya?? Bingung Poool saya..

Atau jangan-jangan kemarin itu hanya pancingan Mas Menpora aja ya?? Melempar isyu ‘judi diperbolehkan’ dulu, nah nanti kalo tanggapan masyarakat dan ulama adem-adem aja, terus beliau akan luncurkan isyu lanjutan semacam PORKAS  dengan dalih keuntungannya untuk dana pembinaan olah raga apa yaa??

“Hadhuuuuuh Mas Menpora.. tolong doooong..,  tunjukin mana dasar hukumnya doong..”. Biar tenang hidup kami sekeluarga.., setidaknya ada jawaban kami kepada malaikat kelak di Akherat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *