Ketika Cinta

Ketika Cinta..

Nggak tau kenapa, perjalanan Perth-Jakarta kemarin tuh bagaikan ‘Neraka’ buat saya.

Foto Kajiedan 1 Ketika Cinta..Bukan kok karena AC pesawatnya nggak dingin, bukan juga karena dapat seat di pintu darurat, nggak, bukan karena itu, tapi bayangkan terbang 4,5 jam dengan segala perasaan ketakutan, menyesal dan penuh dengan rasa bersalah.

“On, kapan aku tok tambakké.., bèn iso mlaku manèh.., aku wis kesel..” (On, Kapan kamu akan bawa saya berobat.., biar bisa jalan lagi..,saya udah capèk). Kalimat Bapak itu yang terus terngiang-ngiang sepanjang perjalanan kemarin.

Kalimat itu memang beliau ucapkan minggu lalu, ketika saya pamitan mau berangkat ke Syah Alam Malaysia. Sebenarnya keberangkatan saya ke Malaysia dengan dokter Agus itu emang dengan tujuan awal mencari pengobatan alternatif yang pas buat Bapak.

Lha gimana, kalau menurut pengobatan secara medis, yang namanya ‘Alumni Stroke’ itu ya selain diupayakan penyempurnaan aliran darah, obatnya ya tinggal hanya pelemasan otot dan melatihnya lagi untuk bisa berfungsi, musti mau banyak latihan jalan, gerak dan lain lain. Tapi kan dengan usia Bapak yang udah menginjak 75thn, situasinya ‘dadi bedo’ ini..lha njut ‘kesusu’ pengin cepet pulih jee beliau itu.

Sepertinya beliau berharap ada suatu obat, pil, sirup atau apalah namanya, sekali teguk trus pasien bisa jalan atau berlari.., hiiikss pliiiisss kalo’ ada yan bisa gitu temen-temen kasih tau saya yaaa. Emang nggak ‘maido’ saya, pasti selama setahun dan mayoritas berbaring di tempat tidur itu yaa memang membosankan jee.

Lha tapi musti gimana lagi yaa?? bingung saya.  Lha semua fasilitas nomor satu sudah kami siapkan jee, dari 2 perawat yang selalu standby di rumah bapak, trus fisoterapi dan latihan jalan seminggu 3x, terus masih pijat pelemasan otot 5 hari sekali, terus terapi Ozon seminggu sekali.

Demi Allah nggak sedikitpun pengin sok-sokan dan berhitung atas upaya kami sekeluarga lho yes, tapi éé siapa tau ada masukan dari teman-temen upaya lain yang sesuai denganBapak saya yang sudah sepuh itu.

Rasanya, akhir-akhir ini hanya keliling Jogja naik mobil kami berdua yang Bapak anggap sebagai hiburan pelepas penat.. dan terakhir sebelum saya ke Perth minggu lalu, sempet kami sekeluarga ajak Bapak dan ibu menikmati ‘Tandu Ala Panglima Jendral Sudirman’ menaiki bukit di Pantai Inessya.

Hehehe.., emang nekat sih kami kemarin dengan semangat 45, nekat minta tolong anak buah boss Gumari siapkan tandu guna membawa Bapak dan Ibu bergantian mendaki bukit yang lumayan tinggi.

Awalnya kami memang kawatir dengan besarnya tiupan angin pantai selatan.Lha tapi Alhamdulillah ternyata Bapak lebih Happy dan menikmati suasana di Pantai Inessya daripada sewaktu di villa Bapak di Cangkringan Gunung Merapi beberapa hari sebelumnya.

Kemarin malam di pesawat, berpuluh-puluh kenangan saya bareng Bapak terputar ulang kembali, kadang saya senyam senyum sendiri, ketawa.. dan ngga jarang pula tiba-tiba menangis.

Lha sampai-sampai bule yang duduk disamping saya bingung..”what happen buddy?? are you alright..”, berkali-kali dia mengucapkan kalimat tanya bahasa Enggris itu..

(maaf.., lebih dari dua bulan cerita ini terputus.., terbengkelai dan nggak sempet nglanjuti dan baru sekarang saya bisa melanjutkannya lagi ketika perasaan saya mulai lega karena kesehatan Bapak meningkat baik..)

Jadi gini ceritanya teman-teman, dua bulan yang lalu Bapak kesehatannya memburuk, berawal dari HB darah Bapak merosot ke angka 5, padahal kata dokter Agus untuk kondisi normal sebaiknya di atas 12, maka diputuskan untuk melakukan tranfusi darah guna meningkatkan HB darah Bapak.

Lha cilakanya, setelah kantong darah ke 5 ditransfusikan ke dalam tubuh Bapak, fungsi jantung beliau melemah, detaknya hanya tinggal 29x per-menit, sedangkan seharusnya di seputar angka 80x per-menitnya, Bapak kolaps dan sempat hilang komunikasi selama beberapa jam karena otak beliau tidak teraliri oksigen yang cukup.

Setelah beberapa suntikan yang dokter Agus berikan, berangsur angsur detak jantung Bapak meningkat, walau hanya mampu mencapai 50% dari standart normalnya. Dan pemasangan alat pacu jantunglah satu satunya harapan untuk bisa memulihkan detak jantung Bapak untuk kembali normal.

Celakanya, sehari sebelum alat tersebut dipasang.. Bapak terserang infeksi paru-paru yang dasyat, batuk yang hebat serta lendirnya yang berliter-liter dalam sehari membuat tubuh Bapak semakin lemas dan tidak mampu menelan..setetes airpun tidak mampu beliau telan.

Akhirnya alat penyedot dahak serta selang sonde untuk memasukkan makanan yang dipasang melalui hidung Bapak lah yang lebih dari sebulan terakhir setia menemani beliau. Oh yaa, sama dilayani dengan setia oleh Pak Apit, ‘Perawat Sejati’ buat Bapak, terima kasih Pak Apit.

Otomatis sudah dua bulan belakangan ini hanya ICCU atau kamar rumah sakit yang diisolasi lah tempat tinggal Bapak sesungguhnya, Walaupun sebulan lalu alat pacu jantung telah berhasil dipasang di badan Bapak, kamar-kamar itu tetap sebagai hunian tetap Bapak, itupun hanya untuk sekedar berbaring, terkulai, lemah.., tanpa daya.

Selain Pak Apit, yang patut mendapatkan piagam penghargaan kesetiaan adalah Mbak Ika dan Dik Deny, mereka dengan ikhlas telah bergantin setiap hari menunggu serta merawat Bapak, terimakasih Mbak Ika dan Dik Deny.

Sedangkan saya, saya sejak kecil benci sakit serta rumah sakit,  jadi paling tidak betah saya berlama-lama di ruangan Bapak.. ya selain itu perasaan merasa bersalah karena nggak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan Bapak semangkin menambah ‘sesaknya’ dada saya.

Sementara setiap Bapak menatap tajam mata saya, saya sangat amat yakin sekali bahwa tanpa mengucap.., tapi Bapak berharap saya mengambil langkah heroik guna kesembuhan beliau, seperti yang telah lalu-lalu.. perasaan itu sangat terasa sekali.

Lha gimana nggak?
Dulu itu..
Bapak mengeluh pendengarannya berkurang,
Langsung beli alat bantu tercanggih.
Bapak merasa dada sesek,
Langsung pasang ring di Jakarta.
Bapak dibilang penyempitan saluran otak,
Langsung 2x Brainwash teraphy dr
Dan yang terakhir ketika Bapak mengalami stroke,
Langsung diterbangkan ke Singapore.

Tapi kali ini, maafkan saya Bapak.
Kondisi Bapak sudah kelewat capèk kalau harus wira wiri,  sehingga saya hanya bisa mengikuti saran dokter Agus, untuk lebih berhati hati mengambil sikap dan langkah Pak.

Terus pertanyaan yang telah berulang kali Bapak sampaikan ke saya, “iki aku ngko iso mari opo ora On..??”. Saya akan selalu menjawab dengan tegas dan lantang,”Kudu iso mariii Pak!!!!”. Sebab hanya kesabaran dan semangat Bapaklah yang akan mendukung ijabah Gusti Allah.

Terus terang Bapak..
Kalimat yang telah susah payah Bapak susun agar jelas terdengar dan Bapak ucapkan kemarin dini hari,”On.. Aku Percoyo kowé…”. Telah meruntuhkan seluruh ketegaran saya Pak.. nangiiiiis saya Paak..!!

Rasanya semakin kecil saja anakmu ini Bapak, tanpa arti dan tidak bisa berbuat apapun saat menyaksikan Bapak terkulai tak berdaya.. Hancuur hati saya Pak..!!

Dan saya, saya hanya bisa mengulang kembali proposal permohonan yang selalu saya ajukan kepadaNya di setiap sujud terakhir sholatku,”Ya Allah hanya engkau yang mampu mewujudkannya ya Allah.. Berilah kesembuhan dan kesehatan pada Bapak, agar bisa beribadah lagi guna memenuhi ‘syarat minimal’ SurgaMu ya Allah..”

Satu hal hebat yang Allah tunjukkan pagi itu, ketiga batuk Bapak sudah mulai membaik, sepertinya oksigen sudah lumayan lancar menyirami otak Bapak, dengan wajah yang lumayan cerah dan berbingar, hal pertama yang bapak ucapkan adalah,”Ibumu piye kabare?? kok lama nggak ke sini”.

Masya Allaaaah.. Maha Besar Allah dengan segala cintaNya.. Setelah mengalami derita yang amat sangat selama berbulan-bulan, tapi seperti sirna segala rasa sakit itu setelah teringat akan pasangan yang beliau cintai… dan itu adalah Ibuku.. Allah hu Akbaaar!!!. Nangiiiiiiiiiis maneeeeeeh akuu.
Foto Kajiedan 2 Ketika Cinta..
Dan saya semakin berjanji. Segala macam cara dan upaya medis yang ada di dunia ini akan saya hadirkan buat Bapak, agar selalu dapat melihat belahan jiwanya sambil beribadah memenuhi ‘syarat minimal’ SurgaNya.. Semoga BELIAU mengijinkan dan memberi kesempatan buat Bapak. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *