Lha Wong Pinjem Kok Nggak Ikhlas…

Lha Wong Pinjem Kok Nggak Ikhlas…

Tahun 2005-2006, kalau hanya dilihat dari angka-angka nya adalah tahun cantik, tapi tahun-tahun itu aslinya adalah ‘tahun berat’ dalam perjalanan hidup saya. Tahun di mana udah benar-benar nggak ada pemasukan buat saya, kalau kata orang bule,”No income babar blast..”

Tahun-tahun itu persis bersamaan dengan saya serah-terimakan kembali usaha angkutan umum kepada patner saya, sekaligus bersamaan dengan terbitnya ‘SK Pensiun Dini’ sebagai Manager artis.. wis, kering kerontaaaang-taaaaang pokoknyaa.. Jadi, selain tabungan jelas sudah habis untuk makan dan biaya hidup 2 tahun, hutang saya di BNI via kredit Ibu juga membengkak hingga 1,2M.

Selama 2 tahun itu pula berbagai usaha telah saya coba dan selalu gagal. Habis gimana? Saya sudah berikrar untuk tidak menyentuh sedikitpun bisnis di dunia hiburan yang selama 15 tahun lebih telah saya kuasai jéé.., ya bukan apa-apa sih, hanya takut menimbulkan fitnah aja jika kelak kemudian hari saya bisa sukses di bidang itu.

Sangking nggak adanya job dan kegiatan di tahun-tahun itu, akhirnya kegiatan rutin saya setiap pagi ngantar Ines ke AL-Azhar Kemang, terus segera balik ke rumah langsung lanjut antar Itya ke kantornya.., itu Everyday-day.. lhoo!!

Sepulang dari antar Itya pun secara rutin saya nongkrong di kantor Mas Ris, dengan maksud menambah wawasan baru serta melihat kemungkinan adanya peluang-peluang kerjaan. Tau ngga teman2.. ‘Pekerjaan Nongkrong’ itu saya lakukan seharian lho, sambil nunggu waktu jemput Ines pulang sekolah.

Setelah itu masih lanjut lagi menuju halte bus depan Golden Truly Fatmawati, nunggu Itya pulang kantor naik bus umum, Hadeeewww.., ngeri juga kalo mengingat-ingat kejadian di tahun-tahun itu.

Oh ya.., lupa belum saya ceritakan.. Mas Ris Sutarto itu kakak sepupu Itya tapi anehnya  beliau lebih dekat dengan saya daripada dengan Itya..hihihi.. ceritanya sangat panjang sih, tapi yang jelas.. awalnya saya lah yang mendekat beliau, sehingga kami menjadi sangat dekat hingga sekarang.

"Mas Ris yang selalu rapi dalam penampilan, berfikir dan bertindak"

“Mas Ris yang selalu rapi dalam penampilan, berfikir dan bertindak”

Terus kenapa nongkrong di kantor Mas Ris??.. Lha ya karena saat itu Mas Ris Pejabat ‘Agak Tinggi’ di negara ini, sehingga di ruang kerja beliau ada meja tamu serta meja rapatnya.. jadinya saya bisa leluasa berpindah-pindah duduk di ruangan itu jika kursi-kursi itu bergantian beliau pakai rapat, hehe…

Seharian saya nongkrong melihat dan memperhatikan beliau bekerja, sambil ‘berandai-andai’ menyusun strategi bisnis ke depan.

Semua file-file khayalan dalam  ‘Metromini’ dulu saya keluarkan dan saya kupas satu persatu.. Lha tapi ternyata nggak gampang, nyatanya selama 2 tahun nongkrong di kantor Mas Ris tidak menghasilkan ‘income’ sama sekali. Tapi sweer.. di tahun-tahun itu saya tetep berupaya tampil gagah, seolah-olah tidak ada masalah dengan keuangan.. padahal aslinya ‘NO INCOME BUT ALWAYS OUTCOME’..hiiikss.

Mungkin saat-saat itu, selain saya..hanya Mas Ris, Arief dan Itya yang tau keadaan ini.. dah gitu pantang bagi saya untuk tampil dengan ‘format sengsara’ atau mengiba di muka umum, sebab saya yakini jika sekali saja saya terlihat tampil dengan format tersebut pasti para ‘Pemberi Pinjamanan’ malah akan grogi, resah dan akhirnya ngejar-ngejar saya agar segera balikin duit pinjamannya.. malah tambah ruweet kan??

Jadi di 2005-2006, selain kami berempat, orang lain taunya pasti “Kaji Edan adalah ‘Pengusaha Handal’ yang sangat menyayangi anak dan istrinya..”. Lha piye?? setiap hari tampil rapi nganter & jemput sendiri anak-istrinya, pasti mereka kira sambil ngantor.

Padahal aslinya setiap hari mendendangkan lagu 🎶 NO INCOME, NO CRY..🎶 sambil ‘deg-degan’ karena selalu dapat laporan dari Arief kalau saldo pinjaman ke BNI teruuus meningkat.

Tapi temen-temen tau nggak? meskipun NO INCOME, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan selama nongkrong di ruang kerja mas Ris,  tentang ‘Pager Piring’, ‘VVIP’ yang sebenarnya, ilmu ‘Splèteran’ dan masih banyak yg lain.

Saya yakin ilmu-ilmu baru yang saya denger itu pasti hasil pengamatan Mas Ris sepanjang hidupnya, tentu saja sudah beliau buktikan keampuhannya.., top tenaaaan..!!!. Terus istilah2nya itu lho.. aneh-aneh tapi gampang melekat di otak saya, coba saya bahas satu persatu ya..

‘Pager Piring..’
Jangan terus dipikir kita harus bikin pager rumah kita dari piring yang di-susun-susun lho yes, sama sekali bukan.. Tapi ini lebih ke arah mengasah ‘kepedulian’ kita pada tetangga sekitar, kemauan ‘berbagi’ pada orang2 terdekat kita.. Ya tetangga sekitar, ya pegawai, ya temen2 kita ataupun saudara2..

Contoh yg paling gampang..klo ada acara arisan di rumah, lebihkanlah jumlah porsi konsumsinya agar bisa disisihkan dan berbagi juga dengan tetangga.. tapi jangan sekali-kali memberikannya setelah acara usai, nanti bisa menimbulkan kesan jangan-jangan hanya sisa-sisanya doang lho yes..hehe

Trus setelah sering melaksanakannya, indikasi yang bisa dilihat adalah: “seberapa peduli para tetangga dengan kerepotan anda?”.  Misal klo pas lebaran, selama pulang kampung ada nggak tetangga kita yang secara sukarela njagain rumah kita? atau secara bergiliran nyiramin tanem-taneman di halaman?? Lebih-lebih ada nggak yang sukarela melihara dan kasih makan burung atau hewan peliharaan kita..??

Wis, klo ‘Pager Piring’ kita berjalan secara rutin dan efektif, maka tentramlah hidup kita..hehe.. aneh-aneh ae Mas Ris itu kalau bikin istilah.

‘VVIP Sebenarnya..’
Kalo dalam pesta perkawinan misalnya.. yang dijadikan sebagai ‘Very-Very Important Person’ itu biasanya kan para pejabat, para penguasa daerah atau temen-temen bisnis.., terus ‘Para VVIP’ ini dibikinkan jalur khusus agar nggak usah ngantri salaman dan bahkan di photo bersama mempelai, gitu khan??

Tapi klo ilmunya Mas Ris lain lagi.., ‘VVIP Sebenarnya’ adalah: “orang-orang dekat yang setiap saat siap berkorban buat kita”. Lha trus karena ke-loyal-an dan siap berkorban itulah maka dia menjadi ‘VVIP Sebenarnya’ bagi kita, sudah seharusnya mereka menjadi yang berhak mendapat perlakuan istimewa.

“Kalo sudah menjadi ‘seseorang’ tapi tidak ada minimal 4 orang yang siap dan rela berkorban untuknya, maka dia bukan siapa-siapa..gagal hidupnya..”, kira-kira begitu kalimat Mas Ris 10 tahun yang lalu.. sampai sekarang pun masih terngiang-ngiang terus kalau pas saya ngliat Si Arief, Taufik, Darsono, Jarman, Rewang, dkk.. Gimana dengan anda??

Nah kalau tentang ilmu ‘Splèteran’ tuh gini penjelasannya.
Kira-kira temen-temen tau nggak apa yang dimaksud dengan ‘Splèteran’??. Masih inget nggak ditahun 1980-an jaman ‘Break-Break-an’ ??

Kadang kita lagi ngobrol di salah satu Chanel (Frekwensi), trus tiba-tiba ada gangguan bocoran suara dari chanel lain..kira-kira hal itu disebabkan oleh luapan frekwensi dari sebuah antene yang besar powernya barang kali.. Waaah, kok jadi malah ngeluu saya ngomongin Frekwensi segala niiiih.

Wis, gini aja.. kita permudah aja, intinya maksud Mas Ris adalah sebagai berikut : “kita nggak perlu menjadi ‘antene’ yang menjulang tinggi dan powerfull itu..cukup dengan berada disekitar ‘antene’ itu, tapi bisa ikut merasakan efek ‘luapan’ Frekwensi-nya.. “.

Hehehe, masih susah dimengerti ya?? Emang sih, pelajaran dari Mas Ris kadang harus perlu direnungkan dan dicerna secara mendalam terlebih dahulu.. baru kita bisa ngerti maksudnya.

Wis langsung contoh aelah, gini misalnya.. karena Pak lurah sering mampir beli pulsa ke kios Kang Gimin, trus menjadi banyak tetangga yang minta tolong Kang Gimin jika ada urusan ke kelurahan. Hal itu terjadi karena para tetangga berpikiran bahwa: “pasti akan lebih lancar jika minta tolong Kang Gimin yang udah kenal dan dekat dengan Pak lurah..”.

Hehe, udah ada bayangan kan?? Lha kira kira seperti itu yang dimaksud Mas Ris.. Kang Gimin menjadi populer dan banyak dimintain tolong para tetangga karena ‘diduga’ sangat akrab dengan Pak lurah. Padahal aslinya, setiap Pak lurah mampir ke kios Kang Gimin hanya benar-benar ngisi pulsa doang..

Lha itu baru Pak Lurah yang mampir ke kios Kang Gimin.. lha gimana klo Pak Bupati yang mampir?? atau Pak Gubernur.. atau Pak Mentri.. Lha trus seberapa kuat ‘seplèterannya’ klo Pak Presiden yang mampir ke kios kang Gimin..??hihihihi..

Sebenarnya masih banyak lagi pembelajaran ‘Ilmu-ilmu Kehidupan’ yang Mas Ris ajarkan ke saya, tapi klo dibahas semua dengan rinci.. wah, bisa menjadi satu judul buku tersendiri yes.., hehe..

Tapi ada satu pelajaran dari beliau yang selalu terkenang dan memang masih seriiing saya kenang. Hebatnya, ‘satu kisah’ ini selalu meninggalkan kesan yang berbeda pada setiap kali saya mengenangnya..kadang terharu, kadang bangga, kadang meneteskan airmata tapi kadang pula saya senyam-senyum sendiri sehabis mengenangnya.

Gini critanya..
Saat susah kala itu, Alhamdulillah saya sudah punya 2 mobil :  1 suzuki station Careta 1000cc dengan STNK atas nama Ibu saya.. ya jelas harus atas nama Ibu saya, lha wong kreditnya atas nama beliau.. hiikss.. Waktu itu memang belum ada bank yang mau kasih kredit atas nama saya, hiiikss..

Satu lagi Toyota cresida, mobil sedan tua hasil lelangan suatu kedutaan.., ya gitulah, “everyday Mogok yes.. No Day without ‘dandan and surung’..” (artinya: mogok teyuus, tiada hari tanpa service dan dorong).  Jadi dengan lain kata, moda transportasi yg saya punyai waktu itu yang satu mobil sederhana trus yang satunya lagi sangat sederhana..hehe..

Trus suatu pagi, Mas Ris bilang gini,”Boss.., boleh Pinjem KTP untuk beli mobil ngga??”. Jadi rupanya, karena biar nggak kena pajak STNK progresif dan juga kebetulan rumah Mas Ris sedang dipugar maka beliau beli mobilnya pakai nama saya dan disimpennya pun di rumah saya.., “Nanti selama belum saya ambil, Boss boleh pakai dulu deh..”, lanjut Mas Ris kala itu.

“Wiiiiih.. mimpi apa nih saya??”, batin hati saya mendengar permintaan-tolong Mas Ris yang mengandung Bonus tersebut.

Alhasil, Seminggu kemudian sebuah Mobil Mitsubishi Grandis warna hitam pekat sudah nongkrong di rumah saya.. Tahu kan teman-teman ?? itu lho mobil yang modelnya mirip Toyota Inova tapi lebih mewah dikit.

Lha Wong Pinjem Kok Nggak Ikhlas

“Sedan cresida tua dan grandis.. dua2nya mempunyai kisah yang berbeda dalam hidup saya..”

Heheheehhe.. Alhasil, setiap ada keperluan yang kira-kira butuh gengsi atau perlu nampang, saya selalu naik Grandis.., Lha piye, selain lebih gagah, bergengsi, lebih dingin juga jé AC nya jika dibandingkan dengan Sedan Cresida tua saya.

Lha kok ndilalahnya pembangunan rumah Mas Ris itu luaaaaama bener.. yaa karena selain memang besar luasannya ternyata arsitek rumahnya pun lumayan rumit, sehingga hampir setahun akhirnya saya bisa menikmati ‘sang Grandis’ dengan Leluasa, bahkan pada akhirnya sayapun terlanjur ‘jatuh cinta’ padanya.

Hingga suatu sore, pulang dari kantor Mas Ris mampir ke rumah saya.. sambil minum Hot Coklat Mas Ris berujar dengan santai-nya, “Boss, garasi saya sudah jadi, besuk Grandis tolong antar ke rumah yaa..”

Kalimat Mas Ris yang beliau ucapkan secara lembut dan sangat santun itu, terdengar bagaikan petir di telinga saya.. “Dhuuuuaar..!!!!!”

Betapa sedih, kecewa, galau saya mendengar kalimat Mas Ris tadi, berarti sudah saatnya berpisah ama sang Grandis.. “asem tenan kok mas Ris, tau saya lagi seneng-senengnya pakai.. dah gitu saya nggak punya mobil bagus lainnya, koq ditarik…??!!, batin sedih saya dalam hati.. Tapi demikian, walaupun sangat kecewa, sore itu saya berusaha tampak tenang dan tersenyum.. padahal aslinya, hati saya kecuuuuuut poool..

Tapi bukan Mas Ris Tarto kalau nggak cepat tanggap dengan situasi yang beliau lihat dan hadapi, rupanya indra ke-6 beliau mencium kesedihan dan kegelisahan saya. Sambil sedikit mengulum senyum beliau berucap, “Yowisss kalo belum ikhlas.., mbalikin mobilnya habis lebaran aja..”.

Mak nyeeeeeeeeeeeeeessssss hati saya mendengar kalimat ‘penghibur’ yang penuh pengertian dari Mas Ris tadi, setidaknya saya masih punya waktu 6 bulan lagi untuk mempersiapkan diri dan menata hati akan kehilangan mobil kebanggan saya.

Emang aneh sih,”Merasa Kehilangan, saat titipannya diambil oleh yg punya..”. Maka sebaiknya kalau bisa, kita ini kalau pinjem barang jangan lama-lama.. atau kalaupun menerima ‘penitipan’, sebaiknya dijaga aja dan nggak usah pakai coba-coba mencicipinya..walaupun itu seijin si penitipnya..!!. Apalagi berfikir untuk Memilikinya… Wiss rasaaah laaah!!!

Sebab ternyata masih manusiawi banget jéé: “Sedih karena kehilangan barang titipan”. Hiiikss..

Dan atas kisah serta pelajaran tentang Mitsubishi Grandis-nya, saya ucapkan: “Terimakasih atas pengertiannya sore itu dan sekaligus maafkan saya Mas Ris.. “.

Mas Ris tau ngga?? Aslinya, dengan perpanjangan waktu 6 bulan itu.. pada kenyataannya sangat menolong sisi mental dan ‘Jiwa Juang’ saya saat-saat itu.. “Terima Kasih sekali lagi Mas Ris..”

Dan Mas Ris.. untuk kali ini saya malu serta meneteskan air mata mengenang kejadian sore itu.

Lha gimana nggak malu, “Lha Wong Pinjem Kok Nggak Ikhlas..”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *