Membahagiakan orang tua hingga alam kubur..

Membahagiakan orang tua hingga alam kubur..

"semangat bapak untuk sembuh sangatlah besar, apapun terapi beliau jalani dengan senang.. termasuk belajar berjalan di kolam renang"

“Semangat Bapak untuk sembuh sangatlah besar, apapun terapi beliau jalani dengan senang.. termasuk belajar berjalan di kolam renang”

Sejak dulu, dalam setiap doa yang saya sampaikan padaNYA selalu ada ‘Paragraf khusus’ untuk orang tua saya. “Ya Allah mohon terus ENGKAU limpahkan rachmatMu, hidayahMu dan rezekiMu untuk Bapak, Ibu dan Mama mertuaku ya Allah, sehatkanlah mereka, bahagiakanlah mereka dan berikanlah umur panjang yang bermanfaat Ya Allah..”

Bertahun-tahun ‘Paragraf Khusus’ itu saya ajukan pada BELIAU disetiap doa sehabis sholat saya, oleh karenanya saya sangat meyakini, Allah pasti mendengarkan dan akan mengabulkannya, mungkin dengan ‘Paragraf Khusus’ itu pula kemudian Allah memberikan ganjaran sakit kepada Bapak guna menebus dosa-dosanya dan memberi kesempatan bertaubat serta memperbaiki ibadahnya.., Subhanallaaah.. Insya Allah benar dugaan saya.

Oleh sebab itu, kami sekeluarga sepakat ketika Ibu memerintahkan kami anak-anak beliau untuk berusaha semaksimal mungkin demi kesehatan dan kesembuhan Bapak.. Oleh karenanya, segala macam cara dan upaya kami lakukan berempat dan juga dengan bantuan para menantu.

Mungkin, sekali lagi mungkin..  upaya kami tersebut secara tidak kami sadari telah berhasil mengulur-ulur usia bapak, sehingga masih ada waktu buat beliau untuk menerima ‘Hadiah Sakit’ sebagai sarana penebusan dosanya itu.

Tapi sebenarnya, sejak dua tahun yang lalu saya sudah mulai resah.. ini bermula ketika mendengarkan suatu khotbah sholat jum’at yang membahas tentang alam kubur, yang kata Sang khotib merupakan alam penantian menuju akhirat..  sang khotib meneruskan kotbahnya, “dalam alam ini Allah telah memperlihatkan bagaimana ganjaran bagi setiap hambanya yang taat dan juga mulai berlakunya ‘Siksa Kubur’ bagi yang berdosa”.

Lha klo level-level kita ini apa ya bisa lolos dari siksa kubur.. padahal betapa menyakitkan & mengerikan kisah siksa kubur dalam kotbah itu yaa.. Lha coba bayangin, wis dingin, gelap, pengap.. éé masih pula harus menjalani siksaan sesuai amalan negatif yang kita perbuat selama hidup di dunia.

Tapi masih menurut khotbah Sang khotib siang itu, “Jika seseorang meninggal dunia dan disholatkan oleh minimal 40 orang dengan ikhlas, maka insya Allah akan terhindar dari siksa kubur”.

Walah nggak tau kenapa, kok jadi nggak konsen saya mengikuti kelanjutan khotbahnya.. pikiran saya menjadi melayang ke mana-mana, tapi aslinya tuh, yang paling saya takutkan saat itu adalah:
“Nanti saat Bapak meninggal, jangan-jangan yg melayat sepi, trus saya takut yang nyolatin pun ngga sampai 40 orang yang ikhlas…”

Lho iya lho.. Bener lho.. coba temen-temen pikirkan dengan seksama, orang tua kita itu kan rata-rata udah pada pensiun lama, sehingga pergaulan dan pertemanannya pun pasti semakin menyempit, belum lagi ditambah semakin berkurangnya teman sebaya mereka.

Dan jika pun misalnya bapak menjadi aktif di kampung, pasti juga nggak akan bisa maksimal selayaknya pemuda karang taruna.. paling kenalannya hanya akan beberapa tetangga sesepuh yang memang biasanya menjadi jema’ah sholat magrib atau isya’ di masjid kampung.

Lha contoh Bapak saya yang udah pensiun sejak lebih dari 15 tahun yang lalu, beliau itu pensiun setelah menjadi Kasi (Kepala Seksi) di kantornya, walaah, lha wong sing menjadi Mentri saja kalo udah 15 tahun pensiun pasti orang udah pada lupa akan jasa dan karyanya.. , apalagi Pensiunan Kasi..??

Bingung pool saya waktu itu.. dan setiap saat selalu terngiang sebuah kalimat tanya, “Terus gimana dong saya bisa menolong bapak agar terhindar dari siksa kubur.. ??”

Lha gimana nggak bingung???
misalnya bersedekah atas nama bapak, kira-kira kok pahalanya akan bermanfaat kelak di akherat bukan di alam kuburnya.

Kalaupun kita hajikan atau umrohkan lagi beliau, kemungkinan pahalanya juga akan bermanfaat kelak di akherat, bukan di alam kuburnya.

Bahkan dibangunkan masjid termegah dan diwakafkan atas nama Bapak sekalipun, jangan-jangan pahalanya juga hanya akan bermanfaat kelak di akherat, bukan di alam kuburnya.

Asli, bingung saya.. ya tapi setidaknya itulah pemikiran saya saat itu.

Mungkin karena udah kelewat bingung atau entah kenapa, ééé.. nggak tau kok tiba-tiba saat itu saya terdorong untuk berkesimpulan bahwa lebih aman fokus pada:“Bagaimana caranya agar saat bapak berpulang, nantinya akan ada lebih dari 40 orang yang mensholatkan dan mendoakan bapak dengan ikhlas..”

Makanya klo temen-temen perhatikan, sebenernya sekitar sejak 2 tahun lalu saya mulai sering ‘upload’ di FB (Facebook) segala sesuatu tentang bapak  kan??..

Ya baik ‘upload’ tentang sakitnya lah.. atau tentang perkembangan kesehatannya.. bisa jadi tentang langkah pengobatannya, kadang obrolan dengan bapak, kegiatan jalan-jalan dengan Bapak dan bahkan ajaran ataupun nasehat beliau.. Wis pokoknya, segala sesuatu tentang bapak saya coba ‘upload’ di FB saya..

Lha kira-kira itulah hasil perenungan saya beberapa saat waktu itu, bahwa: “sebagai anaknya yang lebih sehat dan masih lebih mampu untuk berbuat sesuatu dari pada beliau, mari kita manfaatkan waktu dan kebisaan kita untuk ‘mengangkat eksistensi’ orang tua kita”.

Dan ternyata tidak susah lho, benar-benar hanya tinggal kemauan kita saja.. misalnya dari pada posting di Facebook atau medsos lainnya dengan hal-hal atau materi yang kurang jelas manfaatnya, saya coba dengan memposting segala sesuatu tentang Bapak.

Terus kalo sedang rapat, meeting, ngobrol dengan teman ataupun kolega kerja selalu saya selipkan cerita tentang Bapak.

Kemudian jika kebetulan Tuhan memberikan kesempatan untuk bisa berbuat kebajikan, saya selalu mencoba untuk membawa Bapak di dalamnya.. bahkan kalau perlu, bikin: “seolah orang tua kita lah yang memerintahkan kita untuk berbuat kebajikan tersebut”.

Tujuannya apa??
Ya biar teman-teman, para tetangga dan saudara-saudara kita merasa masih dekat.. seolah orang tua kita itu masih eksis di seputaran mereka, bahkan semoga timbul rasa ‘memiliki’ bapak saya pada hati mereka.

Dan Alhamdulillah upaya dan doa kami anak-anak insya Allah BELIAU kabulkan. Pada saat Bapak meninggal, sepertinya lebih dari seribu orang baik dari teman-teman, tetangga maupun saudara yang melayat bahkan hingga sampai di makam Bapak pun masih penuh sesak.

Membahagiakan-orang-tua-hingga--alam-kubur-02

Walau tidak sempet saya hitung, tapi sepertinya ratusan pelayat tanpa kami minta telah mensholatkan Bapak.. Lha misalnya, hanya 10% saja diantara mereka yang sholat dengan khusuk dan ikhlas, Insya Allah telah lebih dari 40 orang,.. sehingga Insya Allah bisa meringankan atau semoga malah BELIAU ijinkan untuk menghilangkan siksa kubur bagi Bapak. Amiiiiin.

Dan kini, guna memastikan dan tetap jaga-jaga jika Allah berkehendak lain, maka di setiap doa sehabis sholat wajib saya selalu ada ‘Paragraf Adendum’: “Ya Allah ampunilaah dosa-dosa Bapak kami Ahmad Kushendrarto bin Ahmad dan Sunardi bin Imam Tinoyo.., terimalah arwahnya di SisiMU dan mohon bahagiakanlah mereka di alam kubur serta bahagiakanlah seluruh ahli kubur…”. Amiiiiin..

Lega saya… dan sekarang tinggal mikirin metode saat ‘giliran kita tiba’ nantinya..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *